Orchestrator itu sub-agent juga, cuma skill-nya beda. Tiap sub-agent pegang beberapa skill (cara kerja yang dia tahu). Skill itu sendiri belum tentu manggil tool — baru kalau butuh aksi ke luar (Google Docs, Figma, GitHub, dst), sub-agent akan tool calling lewat CLI atau MCP.
Sub-agent yang skill-nya komando: mecah task, mutusin sub-agent mana yang jalan.
Punya context & reasoning sendiri, fokus ke satu fungsi (riset, QA, design, dst).
Cara kerja yang dipegang sub-agent. Murni reasoning — belum tentu butuh tool sama sekali.
Sistem eksternal konkret (Figma, GitHub, dst) — dipanggil via CLI/MCP kalau skill-nya butuh aksi ke luar.
Gali insight dari data yang panjang & nggak rapi
Exploratory testing & nentuin mana yang bug beneran
Query → insight → validasi, bolak-balik dulu sebelum simpulin
Susun PRD & rangkum feedback jadi poin actionable
Bikin komponen sesuai design system, siapin handoff
Siapin materi launch sesuai brand guideline